Ini efeksamping bila sering konsumsi mie instant

Tascantik77. Mi instan merupakan makanan
populer yang dapat dimakan siang dan malam,
terutama bagi mahasiswa di akhir bulan. Murah dan
mengenyangkan menjadi faktor mi instan populer.
Namun, penelitian yang dilakukan oleh Dr Braden Kuo
dari Rumah Sakit Umum Massachusetts, dapat
membuat para penikmat mi instan berpikir ulang
untuk kembali memakan mi. Dilansir dari laman
Mercola , Ahad (25/1), berikut hasil yang
mencengangkan dari penelitian Dr Kuo yang
menggunakan kamera berukuran sangat mini untuk
melihat apa yang terjadi dengan mi instan di dalam
saluran pencernaan.
Mi instan tidak hancur dalam proses pencernaan
berjam-jam
Mi instan, termasuk juga mie ramen asal Jepang,
tidak hancur selama dua jam proses pencernaan di
dalam tubuh. Bentuk mi yang masih utuh memaksa
saluran pencernaan manusia bekerja ekstra keras
untuk memecah makanan tersebut.
Jika mi instan tetap ada di dalam saluran
pencernaan untuk waktu yang lama, akan sangat
berdampak pada penyerapan nutrisi makanan lain.
Selain itu, di dalam mi itu sendiri, tidak ada nutrisi
yang bisa diserap tubuh. Sebaliknya, tubuh akan
menyerap zat-zat aditif, termasuk zat beracun dari
bahan pengawet, seperti tertiary-butyl hydroquinone
(TBHQ).
Pengawet TBHQ sangat berbahaya bagi tubuh
TBHQ merupakan bahan kimia yang sering disebut
memiliki fungsi sebagai antioksidan. Hanya saja,
TBHQ merupakan antioksidan yang berasal dari
bahan kimia sintetis, bukan antioksidan alami. Zat ini
berfungsi untuk mencegak oksidasi lemak dan
minyak, sehingga dapat memperpanjang masa
simpan makanan olahan, atau biasa disebut bahan
pengawet.
TBHQ biasa digunakan di dalam makanan olahan
instan. Tapi, bahan kimia tersebut juga bisa
ditemukan di dalam bahan non-makanan, seperti
pestisida, kosmetik, dan parfum, karena sifatnya yang
bisa mengurangi tingkat penguapan.
Lima gram zat TBHQ dapat membahayakan tubuh
manusia. Efek dari terlalu sering mengonsumsi TBHQ
adalah mual disertai muntah, terjadi dering di telinga,
mengigau, dan sesak napas.
Mi instan timbulkan gangguan metabolisme
Seseorang yang mengonsumsi mi instan lebih dari
dua kali dalam seminggu berisiko mengalami
gangguan metabolisme, yaitu gejala-gelaja tubuh
seperti obesitas, tekanan darah tinggi, peningkatan
kadar gula darah, dan kolesterol. Diketahui wanita 68
persen lebih berisiko dari pria.
Para konsumen mi instan memiliki asupan nutrisi lebih
rendah, seperti protein, kalsium, fosfor, zat besi,
kalium, vitamin A, niasin, dan vitamin C. Hal tersebut
diperparah dengan ditemukannya zat Benzopyrene
(zat penyebab kanker) di dalam sejumlah merk mi
instan.
Selain itu, penyebab penyakit yang berasal dari mie
instan lainnya adalah kandungan monosodium
glutamat (MSG). MSG dapat menyebabkan disfungsi
otak dan kerusakan berbagai organ. Selain itu, zat ini
juga dapat menimbulkan sejumlah penyakit, seperti
Alzheimer, Parkinson, dan bahkan penyakit kesulitan
belajar.
Semoga informasi ini bermanfaat.